DINAS KESEHATAN KABUPATEN BELITUNG

Jl. Jenderal Sudirman Tanjungpandan - Belitung
Kep. Bangka Belitung
Telp : 0719-21042
E-mail : dinkesbelitung@gmail.com

 

Artikel

Demam Lassa, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala

10 Juli 2018

Penyakit Demam Lassa memang belum begitu dikenal di Indonesia. Namun dikhawatirkan bisa juga menjadi wabah mengingat hewan pembawa virus ini adalah tikus yang juga banyak dan menyumbang penyakit Zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia) di Indonesia.

Demam lassa menjadi perhatian dunia setelah  Pemerintah arab Saudi memberi peringatan terkait adanya larangan warga Negara Nigeria untuk melaksanakan ibadah haji ke Arab Saudi yang tahun 2018 ini Nigeria mendapat alokasi rombongan haji sebanyak 95.000 jemaat, terdiri dari 80.000 untuk Jemaah Haji Reguler dan 15.000 untuk operator tour Haji.

Demam Lassa adalah demam hemorrhagic ( menunjukkan bukti perdarahan; infeksi tertentu (demam berdarah) mengakibatkan hilangnya darah dan cairan tubuh. virus akut yang pertama kali dideskripsikan tahun 1969 di kota Lassa, Nigeria. Sehingga disebut Demam lassa. Virus dapat menyebar dari siklus hewan pengerat (tikus) ke manusia melalui berbagai rute. Penyebaran sekunder antara manusia dapat terjadi dalam kelompok-kelompok domisiliary ( terhubung dengan rumah tangga), dan orang-orang yang terinfeksi dalam komunitas yang mengembangkan penyakit klinis dapat memasukkan virus ke rumah sakit dan memulai siklus infeksi nosokomial.

Lassa hampir sama dengan Marburg dan Ebola, 2 virus mematikan lainnya yang menyebabkan infeksi dengan demam, muntah, bahkan hemorrhagic.

Dari tanggal 1 Januari hingga 18 Maret 2018, ada 1495 kasus terjadi dan 119 kematian yang dilaporkan terjadi di 19 negara bagian (Anambra, Bauchi, Benue, Delta, Ebonyi, Edo, Ekiti, Wilayah Ibu Kota Federal, Gombe, Imo, Kaduna, Kogi, Lagos, Nasarawa , Ondo, Osun, Plateau, Rivers, dan Taraba). Selama periode ini ada 376 pasien yang telah dikonfirmasi, 9 baru diklasifikasikan sebagai probable atau kemungkinan, 1084 teruji negatif dan 26 lainnya masih menunggu hasil laboratorium, 17 petugas kesehatan di 6 negara bagian (Benue, Ebonyi, Edo, Kogi, Nasarawa, dan Ondo) telah terinfeksi dan 4 diantaranya telah meninggal.

 

DIAGNOSIS DEMAM LASSA

Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan pengujian  di laboratorium yang sangat khusus. Spesimen laboratorium mungkin berbahaya dan harus ditangani dengan sangat hati-hati. Demam Lassa didiagnosis dengan deteksi antigen Lassa, antibodi anti-Lassa, atau teknik isolasi virus. , ELISA test (Enzyme-linked immunosorbent assay)–atau 'penetapan kadar imunosorben taut-enzim' merupakan uji serologis yang umum digunakan di berbagai laboratorium imunologiuntuk antigen dan antobodi IgM memberikan kepekaan dan 90% kekhususan untuk mengetahui adanya infeksi.

 Diperkirakan sekitar 80% dari infeksi menghasilkan gejala begitu ringan sehingga tidak nampak dan tidak terdiagnosis. Namun, umumnya infeksi ringan ini ditandai dengan malaise umum, sakit kepala dan demam ringan.

 

Tanda dan gejala

Sekitar 80% dari infeksi pada manusia tidak menunjukkan gejala, 20 % kasus memiliki menunjukan gejala/penyakit  yang berat/  parah mempengaruhi  multi-sistem, di mana virus mempengaruhi beberapa organ dalam tubuh, seperti limpa, hati dan ginjal. Masa inkubasi demam Lassa berkisar 6-21 hari.

Munculnya gejala penyakit demam Lasaa bertahap. Berikut beberapa gejala awal yang biasa terjadi pada pasien yang terserang.

  • Muncul gejala demam
  • Malaise atau rasa tidak nyaman atau tidak enak badan
  • Kelemahan umum

Setelah muncuk gejala awal di atas, setelah beberapa hari kemudian akan muncul gejala lainnya seperti:

  • Pusing atau sakit kepala
  • Nyeri pada otot
  • Nyeri pada dada
  • Rasa sakit atau tidak nyaman pada tenggorokan
  • Mual hingga muntah
  • Batuk
  • Diare
  • Rasa tidak nyaman di perut

Gejala-gejala di atas bisa jadi akan terus berlanjut hingga kasus yang berat atau parah. Misalnya dengan munculnya gejala-gejala seperti:

  • Pembengkakan pada wajah
  • Rongga paru-paru yang terisi dengan cairan
  • Munculnya pendarahan dari berbagai bagian tubuh, mulai dari saluran pencernaan, hidung, mulut, area kemaluan, dan sebagainya
  • Hipotensi atau tekanan darah rendah
  • Kandungan protein dalam urine atau air kencing (Proteinuria)

Sedangkan pada tahapan yang lebih serius atau tahapan akhir dari penyakit Lassa bisa muncul gejala lainnya yang lebih parah lagi, misalnya dengan munculnya:

  • Kejang
  • Shock
  • Tremor
  • Disorientasi bahkan hingga koma
  • Kehilangan pendengaran atau tuli, yang bisa terjadi pada sekitar 25% kasus yang muncul pafa masa penyembuhan. Masa penyembuhan ini terjadi setelah 1 hingga 3 bulan
  • Gangguan gaya berjalan dan terjadi rambut rontok juga bisa terjadi selama masa pemulihan

Itulah beberapa gejala dari demam Lassa mulai dari gejala yang ringan hingga gejala yang berat dan serius yang perlu diketahui.

 

Morbiditas dan Mortalitas

Kasus demam berdarah Lassa menurut beberapa studi dan penelitian terjadi pada sekitar 300.000 hingga 500.000 kasus. Pada Afrika Barat sendiri sebagai negara endemiknya, terjadi sekitar 5.000 kematian per tahun yang terjadi akibat demam berdarah Lassa.

Tingkat fatalnya kasus demam berdarah Lassa secara keseluruhan sekitar 1% hingga 15% pada pasien yang menjalani rawat inap. Sedangkan kasus kematian akibat demam berdarah Lassa sendiri biasanya terjadi pada hari ke-14 sejak munculnya gejala penyakit tersebut.

Jika terjadi kepada ibu hamil, maka risikonya akan lebih besar lagi. Penyakit ini akan menjadi fatal dan berbahaya pada usia kehamilan akhir (trimester ketiga kehamilan). Dengan tingkat kematian ibu maupun kematian janin yang mencapai lebih dari 80% kasus.

 

 

 

Hewan yang Menjadi Media Penularan Virus

Kasus demam Lassa adalah penyakit zoonosis. Maksudnya adalah penyakit ini bisa menyerang manusia dari kontak dengan hewan yang terinfeksi virus itu sendiri. Dengan kata lain, penyebaran virus Lassa adalah dengan media hewan. Penyebaran virus demam berdarah Lassa adalah melalui hewan pengerat. Hewan pengerat ini berasal dari genus Mastomys, yaitu tikus multimammate. Tikus ini bisa melepaskan virus penyebab demam Lassa pada kotoran yang dikeluarkan, baik berupa urine maupun tinja.

Faktor Risiko

Infeksi demam berdarah Lassa bisa terjadi kepada siapa saja, baik wanita maupun pria. Demam berdarah Lassa juga bisa menyerang segala kelompok usia. Namun ada beberapa orang yang lebih rentan terserang penyakit demam Lassa, antara lain sebagai berikut.

  • Penduduk yang tinggal di daerah pedesaan, karena daerah pedesaan adalah daerah yang banyak ditinggali tikus Mastomys.
  • Penduduk yang tinggal di daerah  pedesaan yang sanitasinya buruk karena virus Lassa lebih banyak ditemukan pada daerah dengan sanitasi buruk.
  • Manusia yang terpapar kotoran (urine atau feses) dari tikus Mastomys yang terinfeksi.
  • Penyebaran manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan penderita demam berdarah Lassa. Bisa melalui kotoran (urine atau feses), darah, atau cairan tubuh lainnya. Penyebaran tersebut bisa terjadi dengan media alat-alat medis yang terkontaminasi, seperti adanya jarun suntik yang digunakan kembali, atau juga bisa terjadi karena transmisi seksual.

 

 

 

Pengobatan dan profilaksis

Ribavirin obat antivirus adalah pengobatan yang efektif untuk demam Lassa jika diberikan pada awal perjalanan penyakit klinis. Tidak ada bukti untuk mendukung peran ribavirin sebagai pengobatan profilaksis pasca pajanan untuk demam Lassa.

Pencegahan

Pencegahan demam Lassa dilakukan dengan  mempromosikan tentang  “kebersihan masyarakat” untuk mencegah tikus masuk rumah. Tindakan-tindakan efektif termasuk menyimpan gandum dan bahan makanan lainnya. dalam kemasan ,pembuangan sampah jauh dari rumah, menjaga rumah tangga bersih dan memelihara  kucing.penjaga..

Pengendalian infeksi

Anggota keluarga dan petugas layanan kesehatan harus selalu berhati-hati untuk menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh sambil merawat orang sakit. pencegahan dengan menggunakan pelindung untuk  perawat harus dilakukan secara Rutin terhadap penularan virus Lassa. Namun, untuk keselamatan sebaiknya  pasien yang diduga demam Lassa harus dirawat di diruangan khusus “tindakan isolasi,” yang meliputi mengenakan pakaian pelindung seperti masker, sarung tangan, gaun, dan perisai wajah, dan sistematis sterilisasi peralatan yang terkontaminasi.

Kita berharap demam Lassa ini tidak menjadi permasalahan di Belitung ini. Cara yang paling efektif untuk mencegah demam lassa ini adalah dengan berperilaku bersih dan Sehat.  Dan semoga Jemaah haji kita tidak ada yang terjangkit demam lassa ini.. amiiiin.

Dari berbagai sumber :

- WHO Media Centre (Disease Outbreak News)

- Medical News Today

https://www.npr.org/

- Kedubes  Indonesia ABUJA Nigeria